Prosesi Wisuda Attanzil

KH. Kosim Asyari, membuka prosesi wisuda dengan pemotongan pita.

Kunjungan Ulama

Potret silaturahmi dan keberkahan ilmu bersama Habib Mukhdor bin Ali Abu Bakar Al Aydrus, di tengah para santri dan masyaikh Madar.

Mauidhoh Hasanah

Suasana khidmat saat Kyai Abdus Salam Mujib menyampaikan hikmah nikah dalam acara resepsi Lora Ismail Qosim.

Senin, 14 April 2025

Lora Ismail Qosim, Putra Pengasuh KH. Qosim Asy’ari, Kembali ke Madar Setelah Dua Tahun Menuntut Ilmu di Kota Tarim

 

Lora Ismail Qosim, Putra Pengasuh KH. Qosim Asy’ari, Kembali ke Madar Setelah Dua Tahun Menuntut Ilmu di Kota Tarim


Sampang — Ahad, 13 April 2025
, Ma’had Darut Tauhid Buker (MADAR) menyambut dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan kedatangan kembali Lora Ismail Qosim, putra dari Pengasuh KH. Qosim Asy’ari, setelah menempuh rihlah keilmuan selama dua tahun di Kota Ilmu, Tarim, Hadramaut – Yaman.

Sebelum melanjutkan studi ke Tarim, Lora Ismail Qosim telah menyelesaikan pendidikan Magister (S2) di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tradisional yang kuat dalam turats dan pengembangan studi keislaman kontemporer. Bekal akademik dan spiritual tersebut menjadi landasan penting sebelum beliau mendalami ilmu di Tarim, kota para ulama dan penjaga sanad keilmuan Islam.

Kedatangan Lora Ismail Qosim pada Ahad pagi disambut hangat oleh keluarga, para ustadz, pengurus, dan santri MADAR yang telah menantikan beliau. Suasana haru terasa ketika beliau memasuki kompleks pesantren, disambut dengan shalawat serta rasa syukur dari seluruh keluarga besar pesantren.

Salah satu pengurus menyampaikan,
“Kembalinya Lora Ismail Qosim membawa harapan besar. Semoga ilmu yang beliau bawa dari Tarim memberi manfaat bagi pesantren dan menjadi motivasi bagi para santri untuk terus tekun menuntut ilmu,” ujarnya.

Rencananya, Lora Ismail Qosim akan turut serta dalam berbagai kegiatan pembinaan santri, mulai dari kajian kitab kuning, pendalaman ilmu Al-Qur’an, hingga pembelajaran fikih dan tarbiyah akhlak.

Keluarga besar MADAR mengajak seluruh masyarakat dan wali santri untuk mendoakan agar kepulangan beliau membawa keberkahan, manfaat, dan semangat baru dalam menghidupkan ilmu di lingkungan pesantren.

Kamis, 10 April 2025

Jalan Dakwah K.H. Qosim Asy’ari yang unik dan inspiratif ala Wali Songo

 

Biografi Singkat K.H. Qosim Asy’ari

Pengasuh Ma'had Darut Tauhid Buker (MADAR)

K.H. Qosim Asy’ari adalah seorang ulama, pendidik, dan da'i yang dikenal karena ketawadhuan, keikhlasan, dan pendekatan dakwahnya yang unik, membumi, dan sarat hikmah. Beliau merupakan pendiri Ma’had Darut Tauhid Buker (MADAR), sebuah pesantren yang menekankan pendidikan akidah, syariah, dan akhlak ala Ahlussunnah wal Jamaah.

Latar Belakang dan Pendidikan

Sejak muda, K.H. Qosim Asy’ari dikenal sebagai santri yang tekun dan memiliki kecintaan besar terhadap ilmu agama. Beliau menempuh pendidikan dari pesantren ke pesantren, mempelajari tauhid, fiqh, tasawuf, dan ilmu alat, hingga akhirnya terjun ke masyarakat sebagai pendidik dan da'i.

Dengan bekal keilmuan yang luas dan sanad keilmuan yang kuat, beliau kemudian mendirikan pesantren yang kini dikenal sebagai Ma’had Darut Tauhid Buker, tempat beliau mendidik generasi muda menjadi ‘ibadillah ash-shalihin.

Metode Dakwah yang Unik dan Inspiratif

Salah satu hal yang membuat K.H. Qosim Asy’ari berbeda adalah metode dakwahnya. Beliau berdakwah dengan pendekatan yang lembut, merangkul, dan berpijak pada kearifan lokal—mengingatkan pada dakwah para Wali Songo.

1. Dakwah Melalui Akhlak dan Kedamaian

Beliau tidak hanya berceramah, tetapi mencontohkan akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Sikapnya yang santun, penuh kasih sayang, dan anti-konflik membuat banyak orang mudah menerima ajakannya.

Metodenya selaras dengan ajaran Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)

2. Dakwah Melalui Ekonomi dan Interaksi Sosial

Hal yang paling menonjol dalam perjalanan dakwah beliau adalah pendekatan ekonomi. Saat berdakwah di wilayah Kalimantan, khususnya di daerah-daerah masyarakat pendatang dan lokal, beliau terjun langsung dalam kegiatan perdagangan.

Melalui interaksi harian di dunia usaha:

  • Beliau membangun kedekatan dengan masyarakat

  • Mengajarkan akhlak dan kejujuran melalui teladan

  • Menyampaikan nilai-nilai syariat secara praktis dan tidak menggurui

  • Menyelipkan nasihat agama di sela-sela aktivitas jual beli

Pendekatan ini membuat dakwah beliau terasa alami dan mudah diterima.

Buah Dakwah: Banyaknya Mualaf

Keikhlasan dan metode dakwah beliau membuahkan hasil besar. Banyak masyarakat—termasuk mereka yang sebelumnya jauh dari Islam—akhirnya memeluk Islam di bawah bimbingannya.

Pendekatan humanis, penuh kasih, dan tidak memaksa menjadi kunci keberhasilan dakwah beliau.

Pendiri Ma’had Darut Tauhid Buker (MADAR)

Pada tahun 1996 M / 1416 H, K.H. Qosim Asy’ari mendirikan pesantren yang awalnya bernama Darul Musthofa (DM). Pesantren ini kemudian direvitalisasi menjadi Ma’had Darut Tauhid Buker (MADAR) pada 3 Agustus 2022.

Visi beliau adalah mencetak santri yang:

  • Berakhlak mulia

  • Menguasai ilmu agama

  • Mengamalkan ilmu

  • Mampu berdakwah dengan hikmah

Beliau menanamkan sistem pendidikan berbasis Mu’ahadah, Mujahadah, Muroqobah, Muhasabah, dan Mu’aqobah, yang kini menjadi karakter kuat pendidikan di MADAR.

Warisan Keilmuan dan Pengabdian

Hingga kini, K.H. Qosim Asy’ari tetap menjadi figur sentral dalam pembinaan santri dan masyarakat. Keteguhan beliau menjaga tradisi pesantren salaf, keikhlasan mengajar, serta kemampuan berdakwah melalui keteladanan menjadikan beliau sosok yang dihormati dan dicintai.

Warisan terbesar beliau bukan hanya gedung pesantren, tetapi akhlak, ilmu, dan semangat dakwah yang terus hidup dari generasi ke generasi.